ABSTRAKSI
Ardy Prayoga. 19210227
IKLAN DALAM ETIKA DAN ESTETIKA
Tugas
Softskill. Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma 2013
Kata kunci : Iklan. Etika. Estetika.
Bisnis
(ii +11 halaman)
Salah satu cara yang dilakukan sebuah perusahaan untuk menjual produknya adalah dengan promosi, dengan adanya promosi dari perusahaan tersebut, maka masyarakat bisa mengenal produk yang ditawarkan atau dijual oleh perusahaan tersebut. Promosi bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya yaitu dengan iklan. Sebuah perusahaan untuk mempromosikan produknya, iklan dibuat dengan dramatis sehingga menonjolkan kelebihan dari produknya saja dan iklan tersebut ditayangkan tidak bisa hanya untuk target marketnya saja baik secara khusus dan langsung, tetapi pasti ditonton atau dilihat oleh banyak kalangan yaitu dengan seluruh masyarakat bahkan yang bukan target marketnya. Tujuan penulisan tugas ini adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip moral yang perlu dalam iklan dan untuk mengetahui contoh iklan yang berkaitan dalam etika. Dari hasil penelitian diketahui bahwa iklan mempunyai unsur promosi, merayu konsumen, iklan ingin mengiming-imingi calon pembeli, karena itu bahasa periklanan mempergunakan retorika sendiri. Masalah manipulasi yang utama berkaitan dengan segi persuasive dari iklan (tapi tidak terlepas juga dari segi informatifnya), karena dimanipulasi, seseorang mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dirinya sendiri, tapi ditanamkan dalam dirinya dari luar. Maka di dalam bisnis periklanan perlulah adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut
Salah satu cara yang dilakukan sebuah perusahaan untuk menjual produknya adalah dengan promosi, dengan adanya promosi dari perusahaan tersebut, maka masyarakat bisa mengenal produk yang ditawarkan atau dijual oleh perusahaan tersebut. Promosi bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya yaitu dengan iklan. Sebuah perusahaan untuk mempromosikan produknya, iklan dibuat dengan dramatis sehingga menonjolkan kelebihan dari produknya saja dan iklan tersebut ditayangkan tidak bisa hanya untuk target marketnya saja baik secara khusus dan langsung, tetapi pasti ditonton atau dilihat oleh banyak kalangan yaitu dengan seluruh masyarakat bahkan yang bukan target marketnya. Tujuan penulisan tugas ini adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip moral yang perlu dalam iklan dan untuk mengetahui contoh iklan yang berkaitan dalam etika. Dari hasil penelitian diketahui bahwa iklan mempunyai unsur promosi, merayu konsumen, iklan ingin mengiming-imingi calon pembeli, karena itu bahasa periklanan mempergunakan retorika sendiri. Masalah manipulasi yang utama berkaitan dengan segi persuasive dari iklan (tapi tidak terlepas juga dari segi informatifnya), karena dimanipulasi, seseorang mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dirinya sendiri, tapi ditanamkan dalam dirinya dari luar. Maka di dalam bisnis periklanan perlulah adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Salah satu cara yang dilakukan
sebuah perusahaan untuk menjual produknya adalah dengan promosi, dengan adanya
promosi dari perusahaan tersebut, maka masyarakat bisa mengenal produk yang
ditawarkan atau dijual oleh perusahaan tersebut. Dalam dunia bisnis, persaingan
terjadi semakin ketat dan promosi melalui iklan merupakan salah satu strategi
pemasaran produk, baik barang maupun jasa, yang paling penting dan handal.
Kehadiran iklan sebenarnya sebagai alat untuk menjembatani produsen dengan
konsumen, atau penjual dengan pembeli. Dengan kata lain, semua iklan adalah
sumber informasi. Iklan memiliki bobot kepentingan yang berbeda, ketika
pengusaha berusaha menampilkan produk semenarik mungkin dan pembeli menginginkan
produk seperti yang digambarkan melalui iklan.
Suatu
iklan dibuat dengan dramatis sehingga menonjolkan kelebihan dari produknya saja
dan iklan tersebut ditayangkan tidak bisa hanya untuk target marketnya saja
baik secara khusus dan langsung, tetapi pasti ditonton atau dilihat oleh banyak
kalangan yaitu dengan seluruh masyarakat bahkan yang bukan target marketnya.
Oleh karena itu, dalam periklanan, harus mempunyai etika dan estetika agar
dapat diterima oleh masyarakat dan tidak menjadi iklan yang kontroversial.
Berdasarkan
uraian diatas dan melihat betapa pentingnya etika dalam iklan, maka penulis
memiliki judul “IKLAN DALAM ETIKA DAN ESTETIKA”
1.2
Perumusan Masalah
- Apa saja prinsip moral yang perlu dalam iklan?
- Apa contoh iklan yang berkaitan dengan etika?
1.3
Batasan Masalah
Penulis membatasi ruang lingkup
pembahasan hanya pada iklan dalam eika dan estetika.
1.4
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut,maka tujuan yang akan dicapai adalah:
- Mengetahui prinsip moral yang perlu dalam iklan
- Mengetahui contoh iklan yang berkaitan dengan etika
1.5
Metode Penelitian
1.5.1 Objek Penelitian
Objek
penelitian ini adalah : Contoh iklan dalam etika dan estetika
1.5.2 Data
Data
yang digunakan oleh penulis :
Data
Sekunder berupa data kualitatif, yaitu dengan mencari data-data tentang iklan
dalam etika dan estetika
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.
Pengertian Iklan
Menurut Thomas M. Garret, SJ, iklan dipahami sebagai
aktivitas-aktivitas yang lewatnya pesan-pesan visual atau oral disampaikan
kepada khalayak dengan maksud menginformasikan atau memengaruhi mereka untuk
membeli barang dan jasa yang diproduksi, atau untuk melakukan tindakan-tindakan
ekonomi secara positif terhadap idea-idea, institusi-institusi tau
pribadi-pribadi yang terlibat di dalam iklan tersebut. Untuk membuat konsumen
tertarik, iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. Tapi iklan tidak
diterima oleh target tertentu (langsung). Iklan dikomunikasikan kepada khalayak
luas (melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang:
semua usia, golongan, suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik
moral maupun bisnis.
Masalah moral dalam iklan muncul ketika iklan kehilangan
nilai-nilai informatifnya, dan menjadi semata-mata bersifat propaganda barang
dan jasa demi profit yang semakin tinggi dari para produsen barang dan jasa
maupun penyedia jasa iklan. Padahal, sebagaimana juga digarisbawahi oleh Britt,
iklan sejak semula tidak bertujuan memperbudak manusia untuk tergantung pada
setuap barang dan jasa yang ditawarkan, tetapi justru menjadi tuan atas diri
serta uangnya, yang dengan bebas menentukan untuk membeli, menunda atau menolak
sama sekali barang dan jasa yang ditawarkan. Hal terakhir ini yang justru
menegaskan sekali lagi tesis bahwa iklan bisa menghasilkan
keuntungan-keuntungan bagi masyarkat.
2.2.
Perkembangan Periklanan di Indonesia
Perkembangan periklanan di Indonesia telah ada sejak lebih
dari se abad yang lalu. Iklan yang diciptakan dan dimuat di surat kabar telah
ditemukan di surat kabar “Tjahaja Sijang” yang terbit di Manado pada tahun
1869. Surat kabar tersebut terbit sebulan sekali setebal 8 halaman dengan 4
halaman ekstra. Iklan-iklan yang tercantum di surat kabar tersebut bukan hanya
dari perusahaan / produsen, tetapi juga dari individu yang mencantumkan iklan
untuk kepentingan pribadi.
Di tempat lain juga telah ada kegiatan periklanan melalui
surat kabar, yaitu di Semarang pada tahun 1864. Surat kabar “De Locomotief yang
beredar setiap hari telah memuat iklan hotel / penginapan di kota Paris. Iklan
di kedua surat kabar ini masih didominasi oleh tulisan dan belum bergambar,
karena kesulitan teknis cetak pada saat itu.Dalam perkembangannya, setiap surat
kabar yang terbit kemudian, juga mencantumkan iklan sebagai sarana memperoleh
penghasilan guna membiayai ongkos cetaknya
2.3.
Fungsi Periklanan
- Iklan sebagai pemberi informasi
Sehubungan dengan iklan sebagai pemberi informasi
yang benar kepada konsumen, ada 3 pihak yang terlibat dan bertanggung jawab
secara moral atas informasi yang disampaikan sebuah iklan:
- Produsen yang memiliki produk tersebut
- Biro iklan yang mengemas iklan dalam segala dimensinya: etis, estetik, informatif dan sebagainya.
- Bintang iklan
Perkembangan dimasa yang akan datang, iklan
informatif akan lebih digemari, karena:
- Masyarakat semakin kritis dan tidak lagi mudah dibohongi atau bahkan ditipu oleh iklan-iklan yang tidak mengukapkan kenyataan secara sebenarnya
- Masyarakat sudah bosan atau muak dengan berbagai iklan yang hanya melebih-lebihkan suatu produk
- Peran Lembaga Konsumen yang semakin gencar memberi informasi yang benar dan akurat kepada konsumen menjadi tantangan serius bagi iklan.
- Iklan sebagai pembentuk pendapat umum
Dalam hal ini fungsi iklan mirip dengan fungsi
propaganda politik yang berusaha mempengaruhi massa pemilih. Dengan kata lain,
fungsi iklan adalah untuk menarik konsumen untuk membeli produk itu. Caranya
dengan menampilkan model iklan yang manipulatif, persuasif, dan tendensius
dengan maksud untuk menggiring konsumen membeli produk tersebut. Karena itu
model iklan ini juga disebut sebagai iklan manipulatif.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Objek Penelitian
Objek
penelitian ini adalah : Contoh iklan dalam etika dan estetika
3.2. Data yang
Digunakan
Data
yang digunakan oleh penulis :
Data Sekunder berupa data
kualitatif, yaitu dengan mencari data-data tentang iklan dalam etika dan
estetika
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Prinsip – Prinsip Moral yang
Perlu dalam Iklan
Terdapat paling kurang 3 prinsip
moral yang bisa dikemukakan di sini sehubungan dengan penggagasan mengenai
etika dalam iklan.
Ketiga
prinsip itu adalah
(1)
masalah kejujuran dalam iklan,
(2)
masalah martabat manusia sebagai pribadi, dan
(3)
tanggung jawab sosial yang mesti diemban oleh iklan.
Ketiga
prinsip moral yang juga digaris bawahi oleh dokumen yang dikeluarkan dewan
kepuasan bidang komunikasi sosial untuk masalah etika dalam iklan ini kemudian
akan didialogkan dengan pandangan Thomas M. Gerrett, SJ yang secara khusus
menggagas prinsip-prinsip etika dalam mempengaruhi massa (bagi iklan) dan
prinsip-prinsip etis konsumsi (bagi konsumen). Dengan demikian, uraian berikut
ini akan merupakan “perkawinan” antara kedua pemikiran tersebut.
1.Prinsip
Kejujuran
Prinsip
ini berhubungan dengan kenyataan bahwa bahasa penyimbol iklan seringkali
dilebih-lebihkan, sehingga bukannya menyajikan informasi mengenai persediaan
barang dan jasa yang dibutuhkan oleh konsumen, tetapi mempengaruhi bahkan
menciptakan kebutuhan baru. Maka yang ditekankan di sini adalah bahwa isi iklan
yang dikomunikasikan haruslah sungguh-sungguh menyatakan realitas sebenarnya
dari produksi barang dan jasa. Sementara yang dihindari di sini, sebagai
konsekuensi logis, adalah upaya manipulasi dengan motif apa pun juga.
2.Prinsip
Martabat Manusia sebagai Pribadi
Bahwa
iklan semestinya menghormati martabat manusia sebagai pribadi semakin
ditegaskan dewasa ini sebagai semacam tuntutn imperatif (imperative
requirement). Iklan semestinya menghormati hak dan tanggung jawab setiap orang
dalam memilih secara bertanggung jawab barang dan jasa yang ia butuhkan. Ini
berhubungan dengan dimensi kebebasan yang justeru menjadi salah satu sifat
hakiki dari martabat manusia sebagai pribadi. Maka berhadapan dengan iklan yang
dikemas secanggih apa pun, setiap orang seharusnya bisa dengan bebas dan
bertanggung jawab memilih untuk memenuhi kebutuhannya atau tidak.
Yang
banyak kali terjadi adalah manusia seakan-akan dideterminir untuk memilih
barang dan jasa yang diiklankan, hal yang membuat manusia jatuh ke dalam sebuah
keniscayaan pilihan. Keadaan ini bisa terjadi karena kebanyakan iklan dewasa
ini dikemas sebegitu rupa sehingga menyaksikan, mendengar atau membacanya
segera membangkitkan “nafsu” untuk memiliki barang dan jasa yang ditawarkan
(lust), kebanggaan bahwa memiliki barang dan jasa tertentu menentukan status
sosial dalam masyarkat, dll.
3.Iklan
dan Tanggung Jawab Sosial
Meskipun
sudah dikritik di atas, bahwa iklan harus menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru
karena perananya yang utama selaku media informasi mengenai kelangkaan barang
dan jasa yang dibutuhkan manusia, namun dalam kenyataannya sulit dihindari
bahwa iklan meningkatkan konsumsi masyarakat. Artinya bahwa karena iklan
manusia “menumpuk” barang dan jasa pemuas kebutuhan yang sebenarnya bukan
merupakan kebutuhan primer. Penumpukan barang dan jasa pada orang atau golongan
masyarkat tertentu ini disebut sebagai surplus barang dan jasa pemuas
kebutuhan. Menyedihkan bahwa surplus ini hanya dialami oleh sebagai kecil
masyarakat. Bahwa sebagian kecil masyarakat ini, meskipun sudah hidup dalam
kelimpahan, toh terus memperluas batasa kebutuhan dasarnya, sementara mayoritas
masyarakat hidup dalam kemiskinan.
Di
sinilah kemudian dikembangkan ide solidaritas sebagai salah satu bentuk
tanggung jawab sosial dari iklan. Berhadapan dengan surplus barang dan jasa
pemuas kebutuhan manusia, dua hal berikut pantas dipraktekkan. Pertama, surplus
barang dan jasa seharusnya disumbangkan sebagai derma kepada orang miskin atau
lembaga/institusi sosial yang berkarya untuk kebaikan masyarakat pada umumnya
(gereja, mesjid, rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dll). Tindakan karitatif
semacam ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa kehidupan cultural masyarakat
akan semakin berkembang. Kedua, menghidupi secara seimbang pemenuhan kebutuhan
fisik, biologis, psikologis, dan spiritual dengan perhatian akan kebutuhan
masyarakat pada umumnya. Perhatian terhadap hal terakhir ini bisa
diwujudnyatakan lewat kesadaran membayar pajak ataupun dalam bentuk
investasi-investasi, yang tujuan utamanya adalah kesejahteraan sebagian besar
masyarakat.
4.2. Contoh Iklan yang Berkaitan dengan Etika
Etika
adalah ilmu tentang hal yang baik maupun hal yang buruk dan tentang hak dan
kewajiban dalam bermoral ( Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ). Bisa juga
diartikan pada kasus ini, etika dalam periklanan adalah ilmu yang membahas
tentang baik atau buruk , hak dan kewajiban yang berkaitan dengan periklanan. Ada tiga unsur yang dapat menetukan
apakah sebuah iklan itu baik atau tidak yaitu :
1. Etis (berkaitan dengan kepantasan
sebuah iklan)
2. Estetis ( berkaitan dengan
kelayakan, apakah iklan tersebut layak untuk target marketnya dan apakah jadwal
tayangnya iklan tersebut layak )
3. Artistik ( mengandung nilai seni
sehingga mengundang perhatian masyarakat)
Contoh Iklan yang berkaitan dengan
Etika :
- Iklan rokok yang tidak menampilkan orang yang secara langsung merokok, tapi menggunakan penggambaran lain. Contohnya iklan Gudang Garam Internasional yang mengusung tema"Pria Punya Selera".
- Iklan pembalut wanita yang tidak terang - terangan menampilkan daerah kewanitaan yang ditampung dengan pembalut. Contohnya iklan Charm body fit night, hanya menampilkan bagaimana sistem penyerapan pembalut itu dengan 3D dan hanya menampilkan seorang wanita yang tidur dengan nyaman sampai keesokan harinya tanpa takut kebocoran berkat pembalut tersebut.
- Iklan sabun mandi yang tidak menampilkan orang yang sedang mandi secara utuh. contohnya iklan sabun mandi Lux atau biore yang hanya menampilkan orang yang mandi ditutupi busa secara keseluruhan, hanya pundak dan bagian belakang punggung yang terlihat.
Etika yang harus diterapkan di dalam
iklan adalah sebagai berikut :
1. Jujur : tidak memuat konten yang
tidak sesuai dengan produknya
2. Tidak memicu SARA3.
3. Tidak mengandung pornografi.
4. Tidak bertentangan dengan norma -
norma yang berlaku.
5. Tidak melanggar etika dalam
berbisnis
6. Tidak adanya unsur plagiat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dalam periklanan tidak dapat lepas
dari etika. Dimana di dalam iklan itu sendiri mencakup pokok-pokok bahasan yang
menyangkut reaksi kritis masyarakat Indonesia tentang iklan yang dapat
dipandang sebagai kasus etika periklanan. Iklan mempunyai unsur promosi, merayu
konsumen, iklan ingin mengiming-imingi calon pembeli, karena itu bahasa
periklanan mempergunakan retorika sendiri. Masalah manipulasi yang utama berkaitan
dengan segi persuasive dari iklan (tapi tidak terlepas juga dari segi
informatifnya), karena dimanipulasi, seseorang mengikuti motivasi yang tidak
berasal dari dirinya sendiri, tapi ditanamkan dalam dirinya dari luar. Maka di
dalam bisnis periklanan perlulah adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi
kerawanan tersebut
5.2. Saran
Seharusnya
para pelaku bisnis mengacu pada etika dan estetika yang berlaku pada iklan dan
tidak mementingkan keuntungan semata tanpa mempertimbangkan efek dari iklan
yang dibuatnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar